Sungai PaguyamanSungai Paguyaman

Keinenschrittzurueckmovie.com – Tragedi Sungai Paguyaman di Gorontalo meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga dan warga sekitar. Kenangan terakhir Sumitra Isini masih berputar-putar di kepala orang-orang terdekatnya, seperti gema lirih yang tak mau pergi. Sehari sebelum peristiwa nahas itu, Sumitra sempat melakukan panggilan video dengan keluarga di Desa Ambara. Percakapan sederhana, penuh senyum tipis, kini berubah menjadi memori paling berharga.

Read More : Kode Pos Kayubulan Limboto

Sosok Sumitra yang Dikenang Warga

Sumitra dikenal sebagai pribadi pendiam, tapi hatinya hangat. Meski bukan warga asli, ia sudah lama menetap di Motoduto karena mengelola lahan jagung di sekitar Sungai Paguyaman. Kepala desa setempat menyebut Sumitra sebagai sosok yang ringan tangan.

Ia sering membantu tetangga tanpa banyak bicara, hadir di dapur saat ada hajatan, lalu pulang dengan langkah pelan. Kebaikannya sederhana, tapi membekas. Dari mengantar hasil kebun hingga membantu persiapan acara warga, Sumitra seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari lingkungan sekitar.

Video Call Terakhir Sebelum Tragedi

Bagi keluarga, panggilan video itu kini terasa seperti pesan perpisahan. Dalam layar kecil, Sumitra memperlihatkan kondisi neneknya dan bercerita soal rencana panen jagung. Tak ada firasat, tak ada tanda. Semua mengalir biasa, sebelum akhirnya tak biasa sama sekali. Ucapan-ucapan kecil itu kini disimpan rapi di ingatan, seperti foto lama yang warnanya mulai pudar tapi maknanya makin dalam.

Kronologi Kejadian di Sungai Paguyaman

Peristiwa bermula saat Sumitra pulang dari kebun bersama anaknya dan seorang kerabat. Mereka mencoba menyeberangi aliran Sungai Paguyaman yang saat itu tampak tenang, tapi menyimpan tenaga liar di bawah permukaan.

Arus mendadak menguat. Teriakan anaknya memecah sunyi. Dalam sepersekian detik, Sumitra memilih melepaskan pegangan demi menyelamatkan darah dagingnya. Keputusan itu menjadi pengorbanan terakhir seorang ibu.

Baca juga: Kesehatan Pendidikan! Puskesmas Di Limboto Gelar Imunisasi Massal Ke Sekolah-sekolah Dasar!

Pencarian dan Harapan yang Tak Padam

Tim gabungan terus menyisir aliran sungai hingga ke hilir. Potongan pakaian ditemukan, tapi Sumitra dan anaknya belum kembali. Sungai seolah menelan cerita pilu ini bulat-bulat. Kini, Sungai Paguyaman bukan sekadar aliran air. Ia menjadi saksi bisu cinta seorang ibu, harapan keluarga, dan doa-doa yang tak pernah putus agar keduanya segera ditemukan.