Keinenschrittzurueckmovie.com – Mafia solar ilegal Gorontalo kembali jadi sorotan. Aroma solar bersubsidi yang seharusnya mengalir ke rakyat kecil justru diduga kuat menguap ke aktivitas tambang emas ilegal (PETI). Di balik antrean panjang SPBU, ada permainan senyap yang terus berulang, seolah tak pernah benar-benar disentuh hukum.
Read More : Polairud Tangkap Kapal Penyelundup Bbm Di Perairan Gorontalo
Dugaan Kuat Keterlibatan SPBU dan PETI
Permintaan agar aparat kepolisian Gorontalo tak tinggal diam bukan tanpa alasan. Solar subsidi yang seharusnya untuk nelayan, petani, dan UMKM justru disebut-sebut mengalir deras ke lokasi PETI, terutama di wilayah Pohuwato. Praktik ini bukan cerita baru, tapi jejaknya makin terang.
Saat penertiban PETI oleh tim gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan instansi terkait, bukti kembali bicara. Di salah satu camp, petugas mengamankan puluhan galon solar ilegal berkapasitas 35 liter, lengkap dengan peralatan tambang. Sunyi, tanpa pemilik, tapi sarat makna.
Barang Bukti Disita, Pelaku Masih Misterius
Kapolres Pohuwato, AKBP H. Busroni, S.I.K., M.H., menegaskan seluruh barang bukti kini diamankan di Polres Pohuwato. Siapa pun yang merasa memiliki dipersilakan datang, tentu dengan konsekuensi hukum. Pernyataan tegas, tapi publik menunggu langkah nyata berikutnya. Kasus mafia solar ilegal Gorontalo ini terasa seperti benang kusut. Barang ada, bukti jelas, tapi aktor utamanya seperti bayangan di balik asap solar.
Baca juga: Sadis! Sindikat Pencurian Emas Berhasil Diringkus Di Limboto, Pelaku Dari Luar Daerah!
Modus Lama, Cara Baru
Hasil penelusuran di lapangan mengungkap pola klasik. Solar dibeli dari para pengantri di SPBU dengan harga sekitar Rp10.000 per liter, lalu dijual kembali ke lokasi PETI seharga Rp11.000. Margin tipis, tapi jika ribuan liter, siapa yang tak tergoda? Lebih nekat lagi, truk tua yang nyaris rongsok dipaksa antre dengan dalih operasional. Modus ini licin, membuat polisi sulit mengendus tanpa pengintaian serius.
Bukan Sekadar BBM, Tapi Soal Masa Depan
Bisnis solar ilegal ini jelas melanggar hukum dan merusak lingkungan. PETI bukan cuma menggerus tanah, tapi juga memicu konflik sosial. Seperti kata tokoh masyarakat Gorontalo, Rahim Karim, ini bukan sekadar jual beli solar, melainkan rantai pasokan kejahatan. Membongkar mafia solar ilegal Gorontalo bukan pilihan, tapi keharusan. Jika dibiarkan, bara kecil ini bisa jadi api besar yang melahap segalanya.
