Keinenschrittzurueckmovie.com – Menjelang akhir tahun, deretan lapak kembang api biasanya jadi pemandangan yang akrab di pinggir jalan. Cahaya warna-warni dan suara petasan selalu identik dengan momen perayaan. Namun, cerita di balik lapak penjualnya tak selalu semeriah yang terlihat. Seperti yang di rasakan Hapsa Matiu (40), pedagang kembang api di Desa Pentadio Barat, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.
Read More : Lomba 17 Agustus Di Limboto Banjir Peserta
Sejak 27 November lalu, Hapsa setia membuka lapaknya di tepian jalan desa. Setiap sore, ia berdiri sabar di balik tumpukan kardus berisi kembang api, menunggu pembeli yang datang satu per satu.
Omset Turun Drastis Dibanding Tahun Lalu
Musim perayaan tahun ini terasa berbeda bagi Hapsa. Jika pada periode yang sama tahun lalu ia bisa meraup omzet harian sekitar Rp300.000 hingga Rp500.000, kini pendapatannya menurun cukup tajam. Dalam sehari, uang yang masuk hanya berkisar Rp50.000 sampai Rp70.000.
Menurut Hapsa, penurunan omzet bukan karena minat masyarakat berkurang. Justru sebaliknya, antusiasme tetap ada. Masalah utamanya ada pada jumlah penjual yang meningkat drastis. “Tahun lalu penjual belum sebanyak ini. Sekarang hampir di setiap sudut jalan ada lapak kembang api,” ujarnya saat ditemui, Selasa (23/12/2025).
Persaingan Ketat Antar Pedagang Musiman
Banyaknya Pedagang Kembang Api musiman membuat persaingan semakin ketat. Harga saling ditekan, pilihan makin beragam, dan pembeli jadi lebih selektif. Meski begitu, Hapsa tetap berusaha bertahan dengan menyediakan berbagai jenis kembang api.
Ia menjual petasan kecil seharga Rp3.000 yang biasanya dibeli anak-anak, hingga kembang api berukuran besar dengan harga mencapai Rp200.000. Lapaknya mulai buka sekitar pukul 15.00 WITA dan tutup pada pukul 20.00 WITA.
Baca juga: Kriminalitas! Penipuan Modus Investasi Bodong Berkedok Koperasi Seret Warga Limboto!
Keyakinan Rezeki Tak Pernah Salah Alamat
Di tengah kondisi yang tidak mudah, Hapsa memilih tetap tenang. Baginya, berdagang bukan hanya soal hitung-hitungan untung dan rugi, tapi juga soal keyakinan.
“Memang jauh bedanya dengan tahun lalu. Tapi saya percaya rezeki tidak akan tertukar alamatnya,” katanya dengan senyum tipis. Di bawah lampu jalan Pentadio Barat yang mulai menyala, Hapsa Matiu terus bertahan. Meski omzet menurun, keyakinannya justru semakin kuat, menjadi pengingat bahwa di balik kerasnya persaingan, selalu ada harapan yang tetap menyala.
