Penganiayaan Balita GorontaloPenganiayaan Balita Gorontalo

Keinenschrittzurueckmovie.com – Kasus penganiayaan balita Gorontalo akhirnya terbuka ke publik, bukan karena kebetulan, tapi lewat rangkaian kecurigaan panjang yang disimpan rapat oleh keluarga korban. Di balik rumah yang kerap kosong dan alasan yang tak pernah tuntas, seorang anak kecil harus menanggung luka sebelum akhirnya bisa diselamatkan.

Read More : Ditahan! Kejati Gorontalo Tetapkan 3 Tersangka Baru Kasus Korupsi Proyek Revitalisasi Danau Limboto!

Kecurigaan Lama yang Tak Pernah Padam

Paman korban berinisial UH mengungkapkan bahwa dugaan kekerasan sebenarnya sudah muncul sejak lama. Naluri keluarga terus berisik, seperti alarm kecil yang tak berhenti berbunyi. Sayangnya, tanpa bukti kuat, mereka hanya bisa menahan diri.

Setiap kali keluarga berusaha mendatangi rumah terduga pelaku di Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo, situasinya selalu sama. Pintu tertutup, rumah kosong, seolah ada bayangan yang sengaja menghindar. Upaya menyelamatkan anak-anak pun berulang kali kandas di situasi yang menggantung. โ€œKami tahu, tapi kami buntu. Anak-anak susah di jangkau,โ€ ujar UH lirih.

Bukti yang Mengubah Segalanya

Titik balik kasus penganiayaan balita Gorontalo ini datang dari sebuah panggilan video. Ibu korban yang berada di luar daerah melakukan video call dan melihat langsung wajah anaknya. Di layar kecil itu, luka dan lebam tak bisa disembunyikan.

Rekaman tersebut menjadi bukti pertama yang nyata. Seperti petir di siang bolong, keluarga tak lagi bisa diam. Bukti itu digenggam erat, bukan hanya sebagai rekaman, tapi sebagai harapan terakhir untuk menyelamatkan korban. โ€œSetelah lihat langsung lewat video, kami nggak bisa nunggu lagi,โ€ kata UH.

Laporan dan Tindakan Aparat

Berbekal bukti visual tersebut, keluarga melapor ke Polda Gorontalo. Aparat bergerak cepat. Terduga pelaku, yang tak lain ayah kandung korban, diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saat ditemukan, kondisi balita berusia tiga tahun itu memprihatinkan. Wajahnya dipenuhi memar dan luka, seperti peta sunyi dari kekerasan yang terlalu lama disembunyikan.

Baca juga: Pendidikan Tegas! Disdik Gorontalo Larang Keras Sekolah Di Limboto Adakan Study Tour Berisiko Tinggi!

Luka yang Jadi Pengingat

Kasus penganiayaan balita Gorontalo ini jadi pengingat pahit bahwa kekerasan dalam rumah bisa bersembunyi rapi, bahkan dari orang terdekat. Keluarga berharap proses hukum berjalan tegas, agar tak ada lagi anak yang harus menunggu bukti dulu untuk diselamatkan. Di balik luka kecil itu, ada suara besar yang kini akhirnya terdengar.